• Breaking News

    Blog Pendidikan, Contoh Makalah, Contoh Naskah Drama, English Text, Contoh Resensi, Contoh Surat

    Contoh Proposal Karya Tulis Ilmiah Kebidanan

    Krumpuls - Contoh Proposal Karya Tulis Ilmiah Kebidanan - Contoh makalah kedokteran, makalah kebidanan, contoh proposal kedokteran, cara menulis makalah skripsi.


    HUBUNGAN  PENGETAHUAN  KADER  TENTANG POSYANDU
    TERHADAP KUNJUNGAN IBU BALITA KE POSYANDU
    DI KELURAHAN SIRNAGALIH
    KECAMATAN INDIHIANG
    KOTA TASIKMALAYA




    KARYA TULIS ILMIAH
    Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menyelesaikan
    Program Pendidikan Program Studi Diploma III Kebidanan
    Disusun Oleh:
    NURUL DINI
    MA 0409040





    PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA KENCANA
    TASIKMALAYA
    2012


    BAB I
    PENDAHULUAN
     A.  Latar Belakang
    Upaya percepatan penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu, tentunya akan berhasil apabila melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik unsur pemerintahan maupun unsur masyarakat dan dunia usaha. Kemudian untuk mengintegrasikan kegiatan seluruh kepentingan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu, maka Posyandu menjadi salah satu lembaga yang paling tepat, karena keberadaannya sudah cukup lama dan terbukti berhasil mengatasi berbagai permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, pemberantasan penyakit menular dan lain-lain, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi (Depkes RI, 2006).

    Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khusus di bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan mengikut sertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab. Keikut sertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya dan adaya dalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat akan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (Puryaning, 2010).
    Program posyandu dan peran serta kader dapat berjalan secara optimal dengan upaya-upaya diantaranya pemahaman yang berasal dari pengetahuan yang baik, pelatihan/bimbingan dari puskesmas setempat dan pemberian penghargaan untuk meningkatkan motivasi. Seorang kader yang memiliki motivasi yang tinggi dan kemampuan yang bagus dalam menjalankan tugasnya akan menghasilkan kinerja yang baik. Menurut Widiastuti (2007), motivasi kader dalam pelaksanaan posyandu merupakan suatu faktor dominan yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan penimbangan balita.
    Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan (Puryaning, 2010).
    Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003),  mengklasifikasikan menjadi faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan, yaitu: faktor predisposing merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, kelompok, dan masyarakat, yang mempermudah individu berperilaku seperti pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai dan budaya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku salah satunya adalah pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang atau over behavior (Notoatmodjo, 2003).
    Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu, diantaranya:
    1. Faktor-faktor Presdisposisi (Presdisposing Factors) : umur ibu, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan ibu, jumlah anak dalam keluarga, pendapatan dan sikap.
    2. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing Factors)
    Posyandu yang dilakukan oleh kader posyandu yang terampil akan mendapat respon positif dari ibu-ibu balita sehingga kader tersebut ramah dan baik. Kader Posyandu yang ramah, terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan dapat menyebabkan ibu-ibu balita rajin datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu (Yon Ferizal dan Mubasysyir Hasanbasri, 2007).
    Menurut Apriliyanto (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kader posyandu memanfaatkan meja penyuluhan yaitu :
    1. Umur
    Semakin tua umur seorang kader posyandu maka kesiapan kader posyandu dalam memanfaatkan posyandu (Notoatmodjo, 2003).
    1. Pendidikan
    Tingkat pendidikan kader kesehatan yang rendah mempengaruhi penerimaan informasi sehingga pengetahuan tentang pemanfaatan meja penyuluhan menjadi terhambat atau terbatas (Suhardjo, 2009).
    1. Pekerjaan
    Faktor bekerja saja nampak berpengaruh pada peran kader kesehatan sebagai timbulnya suatu masalah pada pemanfaatan meja penyuluhan serta tidak ada waktu kader mencari informasi karena kesibukan mereka dalam bekerja (Depkes RI, 2000).
    1. Pendapatan
    Bagi mereka yang berpendapatan sangat rendah dalam pemanfaatan meja penyuluhan tidak akan berjalan lancar, sebaliknya apabila tingkat pendapatan meningkat dalam pemanfaatan meja penyuluhan akan lancar (Notoatmodjo, 2003).
    1. Pengetahuan
    Pengetahuan dapat membentuk suatu sikap dan menimbulkan suatu perilaku didalam kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo, 2003). Tingkat pengetahuan tentang posyandu pada kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program posyandu khususnya pemanfaatan meja penyuluhan. Pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan posyandu. Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah pemanfaatan meja penyuluhan karena kurang percaya dirinya para kader kesehatan menerapkan ilmunya serta kurang mampu dalam menerapkan informasi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari (Sediaoetama, 2009).
    Semakin tinggi pengetahuan dalam penyuluhan maka akan semakin baik pemanfaatan meja penyuluhan. Orang dengan pengetahuan penyuluhan yang rendah akan berperilaku tidak ada rasa percaya diri yang berdampak menjadi tidak aktif dalam memanfaatkan meja penyuluhan (Sediaoetama, 2009).
    1. f.        Sikap (Attitude)
    Pada penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoatmojo, 2003).
    Pendapat dari bidan tentang posyandu di Kelurahan Sirnagalih yaitu  kader posyandu yang berpendidikan SD sebanyak 80% dari jumlah keseluruhan kader, 60% kader berusia 40 tahun ke atas, 80% kader bekerja sebagai IRT, dan pengetahuan tentang posyandu belum merata di semua kader (Bidan Desa Sirnagalih, 2012).
    Salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang dibentuk oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Posyandu merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan yang dikelola oleh masyarakat dengan dukungan teknis petugas puskesmas. Kegiatan posyandu meliputi 5 program pelayanan kesehatan dasar, yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Imunisasi, Keluarga Berencana (KB), perbaikan gizi dan penanggulangan diare (Depkes RI, 2006).
    Pelaksanaan penimbangan di posyandu berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dilaporkan dari 15 juta balita yang berusia 0 -59 bulan di Indonesia, cakupan penimbangan balita 4 – 6 kali dalam 6 bulan hanya 46%. Sementara masih terdapat 25,5% balita tidak pernah ditimbang.
    Dalam Riskesdas juga dilaporkan posyandu masih merupakan sarana paling tinggi sebagai sarana kegiatan penimbangan balita (Litbangkes, 2008). Cakupan pelaksanaan penimbangan balita yang dilihat dari pelaksanaan penimbangan di posyandu pada tahun 2011, dimana hasil penimbangan balita masih rendah dari 23.009.874 balita hanya sebesar 67.87% balita yaitu 15.616.801 yang ditimbang di posyandu (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pusdatin, data & informasi, Jakarta, 2011). Menurut tingkat perkembangannya di Indonesia pada tahun 2003 tercatat 245.154 unit posyandu dengan total lapor 242.221 unit posyandu.


    Menurut data dari Survei GAVI-HSS Ditjen Bina Gizi KIA, seluruh desa di Provinsi Jawa Barat telah memiliki Posyandu, bahkan ada desa/kelurahan yang memiliki 84 posyandu. Rata-rata jumlah kader per posyandu adalah 5 orang, dengan persentase rata-rata kader aktif per Posyandu adalah 89%. Sementara rata-rata jumlah kader per posyandu yang sudah dilatih program KIA adalah sebanyak 2 orang. Namun demikian berdasarkan data dalam Sistem Informasi Posyandu, bahwa ternyata dari seluruh Posyandu di Provinsi Jawa Barat yang mencapai 47.265 Posyandu, 26,22  % Posyandu masih tergolong Posyandu Pratama dan 46,77 % Posyandu Madya sehingga tingkat cakupan programnya rata-rata kurang dari 50 %. Kemudian  terdapat 22,6 % Posyandu Purnama yang dapat didorong menjadi Posyandu Mandiri dan baru 4,35 % Posyandu Mandiri (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2010).


    Di Kota Tasikmalaya terdapat 729 buah posyandu dengan total yang lapor ada 729 posyandu. Target jumlah kader yang ada 3.467 sedangkan yang aktif ada 3.035 orang. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat jumlah balita gizi buruk pada 2011 sebanyak 4.261 jiwa. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya tercatat saat ini tercatat ada 84.378 balita. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.057 balita yang rutin dilakukan penimbangan dan dikontrol di posyandu setempat. Sementara sisanya sebanyak 35.321 balita kondisi kesehatannya tidak terkontrol karena tidak melakukan penimbangan. Jumlah balita di Indihiang 2.619 jiwa. Jumlah balita yang memiliki KMS yaitu 2.512 jiwa. Jumlah bayi yang ditimbang di posyandu sebanyak 2.196 jiwa.


    Di Puskesmas Indihiang terdapat 47 Posyandu dengan total lapor ada 47 Posyandu. Target jumlah kader yang ada 231 sedangkan yang aktif 215 orang. Jumlah kader di Kelurahan Sirnagalih sebanyak 39 orang (Dinas Kesehatan kota Tasikmalaya, 2011). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Wilayah Kerja UPTD (Unit Pelaksana Tingkat Daerah) Puskesmas Indihiang Januari-Mei tahun 2012 yang dilakukan dengan pendataan pada pelaksanaan kegiatan posyandu Kelurahan Sirnagalih didapatkan cakupan kunjungan balita yang sesuai dengan standar sebesar 60% dari 584 balita hanya 350 balita yang datang ke posyandu. Data ini menunjukkan penimbangan balita dan pemantauan tumbuh kembang balita di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya belum maksimal.

    Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.


    B.  Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :”Adakah hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012?”
     C.  Tujuan Masalah
    1. Tujuan Umum
    Mengetahui hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
    1. Tujuan Khusus
      1. Mendapatkan gambaran pengetahuan kader tentang posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
      2. Mendapatkan gambaran tentang kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
      3. Menganalisa hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012.
    1. D.  Manfaat Penelitian
      1. Manfaat Teoritis
    Mengembangkan kajian tentang hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kader yang dapat menunjang akan meningkatnya cakupan kunjungan balita.
    1. Manfaat Praktis
      1. Bagi Peneliti
    Sebagai pengalaman nyata dalam melaksanakan penelitian serta sebagai media pembelajaran untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan.
    1. Bagi Kader Posyandu
    Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan bagi kader agar dapat meningkatkan pelayanan posyandu. dengan tujuan untuk meningkatkan kunjungan balita ke posyandu khususnya.
    1. Bagi Instansi Kesehatan
    Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Instansi kesehatan khususnya puskesmas dalam meningkatkan kualitas pelayanan dengan berperan serta bersama kader untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk memahami peran dan fungsi posyandu khususnya.
    1. Bagi Institusi Pendidikan
    Sebagai bahan referensi, dokumentasi dan sebagai bahan pustaka.
    E.  Keaslian Penelitian
    Berdasarkan penelusuran pustaka, penulis menemukan penelitian dengan judul “Gambaran pendidikan dan pengetahuan kader tentang deteksi ibu hamil berisiko di wilayah kerja Puskesmas Berangas tahun 2011” oleh Asheni Fahriyah Tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengambil sampel secara cluster sampling dan variabelnya pendidikan kader dan pengetahuan kader tentang deteksi ibu hamil berisiko .
    Sedangkan penelitian ini mengambil judul, yaitu :” Hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya Tahun 2012”. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah jenis penelitiannya yaitu korelatif dengan menggunakan total sampling dan variabel penelitiannya yaitu pengetahuan kader tentang posyandu dan kunjungan ibu balita ke posyandu.







    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA

    1. A.      Pengetahuan
      1. Pengertian
    Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2010), pengetahuan yaitu “apabila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai suatu bidang tertentu dengan benar, baik secara lisan maupun tulisan maka dapat disimpulkan bahwa ia mengetahui bidang tersebut.” Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang.
    Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki (http://id.wikipedia.org/ diakses tanggal 8 juni 2012).

    1. Kategori Pengetahuan
    Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
    a.  Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% – 100%  dari seluruh petanyaan.
    b.  Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% – 75%  dari seluruh pertanyaan.
    c.  Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% – 55% dari seluruh pertanyaan.
    1. Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
      1. Tahu (know)
    Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalahmengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifk dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
    1. Memahami (comprehension)
    Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untukmenjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
    1. Aplikasi (application)
    Aplikasi diarttikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
    1. Analisis (analysis)
    Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
    1. Sintesis (syntesis)
    Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
    1. Evaluasi (evaluation)
    Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasiatau penilaian terhadap sutu materi atau objek.
    1. B.       Kader
      1. Pengertian
    Menurut Ismawati (2010), kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan.
    1. Syarat-syarat Kader Posyandu
    Adapun syarat-syarat seorang kader harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
    1. Dapat membaca dan menulis.
    2. Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
    3. Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
    4. Mempunyai waktu yang cukup.
    5. Bertempat di wilayah posyandu.
    6. Berpenampilan ramah dan simpatik.
    7. Mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu.
    8. Tugas Kader Posyandu
      1. Melakukan kegiatan bulanan posyandu.
    Tugas kader posyandu pada hari H- atau saat persiapan hari buka Posyandu, meliputi:
    1)      Menyiapkan alat dan bahan, yaitu alat penimbangan bayi, KMS, alat peraga, LILA, alat pengukur, obat-obatan yang dibutuhkan (pil besi, vitamin A, oralit), bahan/materi penyuluhan.
    2)      Mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu-ibu untuk datang ke posyandu.
    3)      Menghubungi Pokja Posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa dan meminta mereka untuk memastikan apakah petugas sektor bisa hadir pada hari buka posyandu.
    4)      Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas di antara kader posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.
    1. Kegiatan setelah pelayanan bulanan posyandu
    Tugas-tugas kader setelah hari buka Posyandu, meliputi:
    1)      Memindahkan catatan-catatan dalam Kartu Menuju Sehat ke dalam buku register atau buku bantu kader.
    2)      Menilai hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan hari posyandu pada bulan berikutnya.
    3)      Kegiatan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) merupakan tindak lanjut dan mengajak ibu-ibu datang ke Posyandu pada kegiatan berikutnya.
    1. Pelatihan Kader Posyandu
    Seorang calon kader wajib mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu, seperti :
    1. Konsep posyandu balita
    2. Gizi seimbang, penentuan status gizi balita, cara menentukan status gizi balita, serta penentuan Bawah Garis Merah (BGM), serta pengukuran status gizi dengan menggunakan KMS.
    3. Pemanfaatan dan pemberian ASI ekslusif.
    4. Makanan pendamping ASI yang sehat.
    5. Penyakit yang sering di derita oleh balita, pertolongan pertama pada kecelakaan dan pengobatan balita di rumah.
    6. Stimulasi tumbuh kembang anak.
    7. Pengukuran antropometri (Ismawati, 2010).
    1. C.      Posyandu
      1. Pengertian
    Pengertian posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak balita (Karwati, dkk, 2011).
    1. Kegiatan Pelayanan Posyandu
    Kegiatan posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan atau pilihan.
    1. Kegiatan utama, sekurang-kurangnya mencakup 5 kegiatan, yaitu:
    1)      Kesehatan ibu dan anak
    2)      Keluarga berencana
    3)      Imunisasi
    4)      Gizi
    5)      Pencegahan dan penanggulangan diare.
    1. Kegiatan pengembangan atau pilihan, dapat menambah kegiatan baru disamping 5 kegiatan utama yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dengan baik. Kegiatan baru tersebut misalnya :
    1)      Bina keluarga balita (BKB).
    2)      Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial kejadian luar biasa (KLB). Misalnya infeksi saluran nafas akut, demam berdarah, gizi buruk, polio, campak dan tetanus neonatorum.
    3)      Program diservikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui tanaman obat keluarga.
    4)      Berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.
    1. Sasaran Posyandu
    Semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar yang ada di posyandu terutama :
    1. Bayi dan anak balita
    2. Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui
    3. Pasangan usia subur
    4. Pengasuh anak
    5. Strata Posyandu
    Ada 4 strata dalam posyandu, diantaranya:
    1. Posyandu Pratama (merah)
    Syarat-syaratnya, yaitu :
    1)      Keadaan : posyandu belum mantap
    2)      Penimbangan <8 data-blogger-escaped-kali="" data-blogger-escaped-p=""> 3)      Rata-rata jumlah kadernya 5 orang
    4)      Cakupan kumulatif KIA <50 data-blogger-escaped-p=""> 5)     Cakupan kumulatif KB <50 data-blogger-escaped-p=""> 6)     Cakupan kumulatif Imunisasi <50 data-blogger-escaped-p="">
    1. Posyandu Madya (kuning)
    1)     Keadaan : kelestarian sudah baik, cakupan rendah
    2)     Penimbangan >8 kali
    3)     Rata-rata jumlah kadernya >5 orang
    4)     Cakupan kumulatif KIA <50 data-blogger-escaped-p=""> 5)     Cakupan kumulatif KB <50 data-blogger-escaped-p=""> 6)     Cakupan kumulatif Imunisasi <50 data-blogger-escaped-p="">
    1. Posyandu Purnama (hijau)
    1)     Keadaan : kelestarian sudah baik, cakupan tinggi, ada program tambahan.
    2)     Penimbangan >8 kali
    3)     Rata-rata jumlah kadernya >5 orang
    4)     Cakupan kumulatif KIA >50%
    5)     Cakupan kumulatif KB >50%
    6)     Cakupan kumulatif Imunisasi >50%
    7)     Cakupan dana sehat <50 data-blogger-escaped-p=""> 8)     Program pengembangan posyandu sudah ada.

    1. Posyandu Mandiri (biru)
    1)     Keadaan : Kelestarian sudah baik, cakupan tinggi, ada program tambahan dan dana sehat.
    2)     Penimbangan >8 kali
    3)     Rata-rata jumlah kadernya >5 orang
    4)     Cakupan kumulatif KIA >50%
    5)     Cakupan kumulatif KB >50%
    6)     Cakupan kumulatif Imunisasi >50%
    7)     Cakupan dana sehat >50%
    8)     Program pengembangan posyandu sudah aktif (Ismawati, 2010).
    1. Manfaat Posyandu
      1. Bagi masyarakat
    1)     Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi balita dan ibu.
    2)     Pertumbuhan balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk.
    3)     Bayi dan balita mendapatkan kapsul vitamin A.
    4)     Ibu hamit terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah serta imunisasi tetanus toksoid.
    5)     Ibu nifas memperoleh kapsul vitamin A dan tablet tambah darah.
    6)     Memperoleh penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.
    7)     Apabila terdapat kelainan pada balita, ibu hamil, ibu nifas menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke puskesmas.
    8)     Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang ibu dan balita.
    1. Bagi kader
    1)     Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lebih lengkap.
    2)     Ikut berperan serta nyata dalam perkembangan tumbuh kembang balita dan kesehatan ibu.
    3)     Citra diri meningkat di mata masyarakat sebagai orang yang terpercaya dalam bidang kesehatan.
    4)     Menjadi panutan karena telah mengabdi demi pertumbuhan balita dan kesehatan ibu (Karwati, dkk, 2011).
    1. Pelaksanaan Posyandu
    Dilaksanakan sekurang-kurangnya satu hai dalam satu bulan. Apabila diperlukan hari buka posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Ada 5 meja posyandu, yaitu:
    1. Meja 1
    1)      Bumil/bayi/balita datang ke posyandu.
    2)      Kader melakukan pendaftaran pada ibu dan balita yang datang pada buku register.
    1. Meja 2
    1)      Menimbang bayi/ /ibu yang datang ke posyandu.
    2)      Melaksanakan pengukuran dengan pita Lila (bagi WUS).
    3)      Hasil penimbangan/pengukuran dituliskan pada secarik kertas tadi
    1. Meja 3
    1)      Mencatat hasil penimbangan pada KMS.
    2)      Ajari ibu balita untuk mengetahui cara membaca KMS.
    3)      Menilai berat badan (naik/tetap/turun).
    4)      Memasukkan data ke SIP (register bayi/balita/bumil).
    1. Meja 4
    Memberikan penyuluhan/ konseling secara perorangan/ per kasus.
    1. Meja 5
    1)      Pelayanan oleh tenaga kesehatan/ BKKBN.
    2)      Pemberian Makanan Tambahan Penyuluhan (PMT  Penyuluhan), Oralit, Vitamin A, Tablet Fe, Rujukan, dan lain-lain (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2011).

    1. D.      Balita
      1. Pengertian
    Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah (www.wikipedia.com).
    Masa bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode bayi lahir dua minggu. Meskipun masa bayi sering dianggap sebagai masa bayi baru lahir, tetapi label masa bayi akan digunakan untuk membedakannya dengan periode pasca natal yang ditandai dengan keadaan sangat tidak berdaya (Hurlock, 2008).
    1. Karakteristik Balita
    Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1 – 3 tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Pada masa ini berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relative lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki (http://balita-sehat.com// diakses tanggal 12 Juni 2012).
    1. Tumbuh Kembang Balita
    Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya senantiasa melalui tiga pola yang sama, yakni:
    1. Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah (sefalokaudal). Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung kaki, anak akan berusaha menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar menggunakan kakinya.
    2. Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar. Contohnya adalah anak akan lebih dulu menguasai penggunaan telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia mampu meraih benda dengan jemarinya.
    3. Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar mengeksplorasi keterampilan-keterampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlari dan lain-lain. Pertumbuhan pada bayi dan balita merupakan gejala kuantitatif. Pada konteks ini, berlangsung perubahan ukuran dan jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak. Dengan kata lain, berlangsung proses multiplikasi organ tubuh anak, disertai penambahan ukuran-ukuran tubuhnya. Hal ini ditandai oleh:
    1)          Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.
    2)          Bertambahnya ukuran lingkar kepala.
    3)          Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham.
    4)          Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot. Bertambahnya organ-organ tubuh lainnya, seperti rambut, kuku, dan sebagainya (http://balita-sehat.com// diakses tanggal 12 Juni 2012).
    1. Kunjungan Ibu balita ke posyandu
    Kunjungan Ibu Balita di Posyandu adalah keteraturan kegiatan atau proses yang terjadi beberapa kali atau lebih. Peran serta ibu dalam menimbangkan balitanya ke Posyandu dilihat berdasarkan frekuensi kehadiran balita dalam kegiatan posyandu, dimana dikatakan teratur jika frekuensi penimbangan minimal 8 (delapan) kali dalam waktu satu tahun dan dikatakan tidak teratur jika frekuensi penimbangan kurang dari 8 (delapan) kali dalam satu tahun (Depkes RI, 2004).
    Kunjungan balita ke Posyandu adalah datangnya balita ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan misalnya penimbangan, imunisasi, penyuluhan gizi, dan sebagainya. Kunjungan balita ke posyandu yang paling baik adalah teratur setiap bulan atau 12 kali per tahun. Untuk itu kunjungan balita diberi batasan 8 kali pertahun. Posyandu yang frekuensi penimbangan atau kunjungan balitanya kurang dari 8 kali pertahun dianggap masih rawan. Sedangkan bila frekuensi penimbangan sudah 8 kali atau lebih dalam kurun waktu satu tahun dianggap sudah cukup baik, tetapi frekuensi penimbangan tergantung dari jenis posyandunya (Dinkes Prov. Jabar, 2007).
    Sehingga dapat disimpulakan bahwa ibu balita dapat dikatakan berperan serta baik dalam kegiatan posyandu yaitu jika dalam frekuensi minimal 8 kali pertahun atau lebih, dan sebaliknya ibu balita dikatakan berperan serta buruk atau kurang baik yaitu jikan kunjunngannya ke posyandu kurang dari 8 kali pertahun.
    Faktor – faktor yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu (Sri poedji, 2002).
    1. Umur balita
    Umur balita merupakan permulaan kehidupan untuk seseorang dan pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensi berjalan sangat cepat. Menurut Sri Poerdji  menyatakan bahwa umur hingga 35 bulan merupakan umur yang paling berpengaruh terhadap kunjungan karena pada umur ini merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Khususnya balita diatas usia 36 bulan, karena ibu balita merasa bahwa anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap dan perkembangan sosial anak semakin bertambah.
    1. Jumlah anak
    Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi kehadiran ibu yang mempunyai anak balita untuk hadir atau berpartisipasi dalam posyandu. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan oleh Hurlock (2005) bahwa semakin besar keluarga maka semakin besar pula permasalahan yang akan muncul dirumah terutama untuk mengurus kesehatan anak mereka.
    Dalam kaitanya dengan kehadirannya di posyandu seorang ibu akan sulit mengatur waktu untuk hadir di posyandu karena waktunya akan habis umtuk memberi perhatian dan kasih sayang dalam mengurus anaknya di rumah.
    1. Status pekerjaan ibu
    Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu- ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga  dan waktu untuk mengasuh anak akan berkurang, sehingga ibu balita yang harus bekerja di luar rumah waktunya untuk berpartisipasi dalam posyandu mungkin sangat kurang bahkan tidak ada sama sekali untuk ikut berpartisipasi di posyandu.
    Sedangkan pada ibu rumah tangga  memungkinkan mempunyai waktu lebih banyak untuk beristirahat dan meluangkan waktu untuk membawa anaknya ke posyandu.
    Peran ibu yang bekerja dan yang tidak bekerja sangat berpengaruh terhadap perawatan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari waktu yang diberikan ibu untuk mengasuh dan membawa anaknya berkunjung ke posyandu masih kurang karena waktunya akan habis untuk menyelesaikan semua pekerjaan.
    Aspek lain yang berhubungan dengan alokasi waktu adalah jenis pekerjaan, tempat ibu bekerja serta jumlah waktu yang dipergunakan untuk keluarga di rumah ( Husnaini, 1989).
    1. Jarak tempat tinggal
    Jarak antara tempat tinggal dengan posyandu sangat mempengaruhi ibu untuk hadir / berpartisipasi dalam kegiatan posyandu. Hal tersebut sesuai dengan dinyatakan oleh lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003) bahwa faktor lingkungan fisik/ letak geografis berpengaruh terhadap perilaku seseorang/ masyarakat terhadap kesehatan. Ibu  balita tidak datang ke posyandu disebabkan karena ibu tersebut jauh dengan posyandu sehingga ibu balita trrsebut tidak datang untuk mengikuti  kegiatan dalam posyandu.
    Demikian juga yang dikemukakan oleh WHO dalam Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa sikap akan terwujud didalam satu tindakan tergantung dari situasi pada saat itu. Ibu balita mau datang ke posyandu tetapi karena jaraknya jauh/situasi kurang mendukung maka balita tidak berkunjung ke posyandu.





    BAB III
    KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
    DAN HIPOTESIS


    A.      Kerangka Konsep
    Menurut teori Green dalam Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu, diantaranya:
    1. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing factors)
    1. Pengetahuan kader
    Kunjungan ibu balita ke posyandu
    Variabel Independen                                       Variabel Dependen
    b.  Umur kader
    c.  Pendidikan kader
    d. Pekerjaan kader
    e.  Pendapatan kader
    f.  Sikap kader



    1. Faktor-Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
    Pengetahuan
    Pendidikan
    Pekerjaan
    Paritas
    Pendapatan
    Gambar 3.1
    Kerangka Konsep Penelitian
    Keterangan :
    = variabel yang diteliti                        = variabel yang tidak diteliti
    =  hubungan variabel yang diteliti         = hubungan variabel yang tidak diteliti


    B.       Definisi Operasional
    Tabel 3.1
    Definisi Operasional
    No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kategori Skala
    1 Pengetahuan kader Pemahaman kader tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan posyandu yang dapat dinilai dari hasil jawaban yang  didapat pada saat penelitian. Kuesioner 1. Baik 76% – 100% 2. Cukup 56% – 75%
    3. Kurang 40% – 55% (Arikunto,2006)
    Ordinal
    2 Kunjungan ibu balita ke posyandu Ibu balita yang membawa anak balita (12 – 59 bulan) yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan ke posyandu pada saat dilakukan penelitian (Juknis SPM, 2008). Lembar cecklist
    1. Baik >75%
    2. Cukup 60-75%
    3. Kurang <60 data-blogger-escaped-p="" data-blogger-escaped-rikunto="">
    Ordinal




     C.      Hipotesis
    Ha : Ada hubungan pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Tahun 2012.
    Ho : Tidak ada hubungan pengetahuan kader tentang posyandu terhadap kunjungan ibu balita ke posyandu di Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Tahun 2012.


    Demikianlah artikel yang bisa saya share mengenai Contoh Proposal Karya Tulis Ilmiah Kebidanan semoga bermanfaat dan berguna untuk anda semua - Contoh Proposal Karya Tulis Ilmiah Kebidanan

    Fashion

    Beauty

    Travel