• Breaking News

    Blog Pendidikan, Contoh Makalah, Contoh Naskah Drama, English Text, Contoh Resensi, Contoh Surat

    Contoh Cerpen Cinta Romantis Meski Titik Terpisahkan Jarak

    Krumpuls - Contoh Cerpen Cinta Romantis Meski Titik Terpisahkan Jarak - Contoh Cerpen Lucu, Contoh Cerpen Terbaru.


    Meski Titik Terpisahkan Jarak 
    By: Yuniya Al_Qonita 



    Kupandangi bunga sakura yang bermekaran lewat jendela asramaku, indah dan tak akan pernah bisa kutemukan di kota kelahiranku. Kucoba menikmati segala suasana yang ada namun seberapa dalampun kuhirup keindahan itu tetap saja ada ruang dalam dimensi jiwaku yang belum terisi. Pandanganku terhenti pada bingkai cantik di meja belajarku.


    Wajah polos dengan busana putih abu-abu tertata indah dalam benda persegi itu. Sekilas rekaman masa lalu itu terputar kembali. “Segala ilmu selalu bernilai positif, namun terkadang penggunanya membuatnya menjadi negative. Ilmu nuklir dimanfaatkan dalam pembuatan bom yang oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab digunakan untuk merusak segala fasilitas yang ada dengan misi-misi tertentu. Bagaimanapun segala sesuatu itu akan selalu positif bila diarahkan kepada hal yang positif”.


    Kuakhiri pidato singkatku dengan salam yang disambut gemuruh tepuk tangan siswa-siswa dan guru-guru yang hadir dikegiatan yasinan sekolah kami. Tanpa kusadari ada sepasang mata berbinar disudut sana dengan fikiran yang tak mampu ketebak begitu memperhatikanku. Kuhembuskan nafas lega, aku berharap penampilanku yang untuk pertama kalinya di depan umum sepanjang sejarah di sekolah ini bisa menciptakan memori dibenakku dan orang-orang disekelilingku. Aku memang dikenal sebagai siswa yang pendiam yang terkesan jauh dari lingkungan social, namun hari ini aku menunjukkan sisiku yang lain dan itu cukup membuatku tersenyum puas.


    “maaf.., Qonita..” seorang lelaki berperawakan sedang berkulit putih yang kutau namanya Zaid dari teman-teman membuat langkahku terhenti. “iya…” tanyaku heran. “soal try out matematika tentang statistika itu dijabarkan keseluruhannya ya?” tanyanya balik. “iya.., karena setiap step memberikan penjelasan untuk step berikutnya” jawabku. “Alhamdulillah berarti saya benar, bisa kita diskusi nanti ba’da dzuhur di mushalla?” tanyanya lagi. “insya Allah” jawabku singkat” “baiklah, kita ketemu nanti siang” ucapnya yang kujawab dengan anggukan kecil. Aku belum terlalu mengenal siapa sosok Zaid, yang kutau dia salah satu siswa yang dibanggakan guru-guru di sekolah ini. Siang itu seperti rencana, diskusi kecil-kecilanku berlansung.



    Aku merasa nyaman bertukar fikiran dengannya. Keluasan wawasannya di bidang matematika meski dia bukan dari jurusan IPA membuat kami cepat menyatu. Diskusi itu berlanjut setiap empat kali sepekan, dan tidak hanya secara lansung namun kami juga biasa saling menghubungi lewat via telephon bila ada suatu materi yang tidak kami fahami. Untuk yang pertama kalinya aku bisa akrab dengan orang selain teman kelasku. Kedekatan itu mulai kurasakan berbeda. “Qonita…” panggil Zaid perlahan saat diskusi kami berlansung. “mmm…” jawabku singkat tanpa menoleh dan tetap sibuk dengan soal geometriku. “cepat sekali waktu berlalu ya, beberapa hari lagi pengumuman kelulusan akan keluar dan kamu akan terbang menggapai mimpimu.” Ucapnya yang membuat tanganku terhenti dari aktivitasnya.



    Aku menghela nafas perlahan, terasa ada duri ditenggorokanku. “aku ingin melukis Negri Mesir dengan sastra arabku, kalau boleh aku tau kemana langkahmu selanjutnya?” “Mesir?” ucapku dengan suara hampir berbisik. “aku ingin memeluk Negri sakura dengan sayap-sayap matematikaku” lanjutku. Pernyataannya dan jawabanku membuat kami membisu. Ada berat yang kurasakan dan aku yakin iapun merasakannya. “jujur, aku ingin segera menggapai mimpiku, namun aku mulai takut saat ia mendekat. Aku mengenalmu saat pidato dikegiatan yasinan kita, dan jujur dari sana aku mulai memperhatikanmu, maaf tapi kini hadirmu terasa mengikat langkahku” ucapnya. Tubuhku bergetar hebat, kembai kami membisu. Diskusi hari itu terasa bagai sebuah perpisahan.

    ***


    Hari-hari mulai berlalu, pengumuman kelulusan telah keluar. Zaid sepertinya menemukan titit terang untuk mimpinya. Ia diterima di Universitas Al Azhar Cairo dan dia mulai sibuk mempersiapkan segala persyaratanya sementara aku belum memiliki kepastian apapun. “Qonita, kamu dipanggil sama Pak Anwar, disuruh ke ruang guru segera” kata teman sekelasku. Aku lansung beranjak menuju ruang guru. Sesampaiku di ruang guru, kulihat pak Anwar tersenyum menyambutku.


    “luar biasa, bapak sudah menebak sebelumnya kalau kamu pasti bisa mendapatkan beasiswa ini. Selamat Qonita, pekan depan kamu akan terbang ke Negri sakura seperti impianmu” ucap pak Anwar. Aku tak bisa berucap apapun, hanya air mata yang kurasakan mengalir perlahan dipipiku. Aku keluar dari ruang guru dengan perasaan puas tak menentu, tampak sesosok tubuh yang tak asing bagiku menungguku di bibir pintu dengan senyum khasnya. “sepertinya sayap-sayapmu mulai terlihat, sastrakupun mulai tergores. Besok pagi aku terbang ke Negri padang pasir” ucap Zaid lirih. “bila sebuah garis AB dipotong, maka ia akan membentuk dua buah garis dengan nama yang berbeda. Aku tidak tau dengan variable apa engkau akan menyatu.” Ucapku. “jangan katakana aku adalah sebuah garis karena ia akan menjadi sebuah titik bila dipartisi menjadi bagian terkecil, tapi aku adalah sebuah titik yang meski dipartisi bagaimanapun ia tetap dinamakan titik. Kemanapun langkahku, aku tetap Zaid yang kau kenal” lanjutnya. Aku terdiam sejenak, kemudian berujar “proposisi itu sebuah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak bisa sekaligus keduanya. Akhirnya nanti cuman satu, benar atau salah. Aku tak pernah tau apa yang akan terjadi. Jarak diantara kita terlalu jauh.



    Harapan itu terlalu kecil” ucapku pasrah “dalam konsep aljabar biasa kita fahami a + (b.c) = (a + b) . (a + c) itu tidak ada, bahkan bisa dibilang mustahil namun aljabar Boolean menyajikan suatu yang berbeda dari biasanya. Konsep a + (b.c) (a + b) . (a + c) itu benar untuk hukum distributifnya. Yang ingin saya katakana bahwa tidak ada yang mustahil. Bila dalam suatu ranah ia mustahil maka diranah yang lainnya ia bahkan sangat mungkin terjadi” jawabnya tegas.



    Kebisuan itu terasa menyusup relung jiwa kami, dan akhirnya.. “Qonita, bila ruang kosong di dalam hatimu masih ada, suatu saat nanti aku akan datang memintamu menjadi bidadari dalam syurga kecilku. Aku berharap engkaulah bidadari bermata jeli yang menempati sudut hatiku” lanjutnya. Aku tertunduk dalam diam. “engkau kuanggap sebuah titik mulai sekarang dan untuk selamanya” lirihku kemudian berlalu meninggalkannya. “kutunggu kau kembali dengan merpati sastramu..” batinku saat kurasakan langkahku semakin menjauhinya.




    Drrrrrttt….Drrrttt
    Getaran ponselku menyentakku kembali ke alam sadar, setangkai bunga sakura tampak jatuh dari dahannya dan menimpa jendela asramaku. “kak, saya tunggu di kampus” pesan singkat Syakira, adek tingkatku yang juga mahasiswa dari Indonesia mengingatkaku akan janji dengannya. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kampus. Pepohonan sakura yang berbaris sepanjang jalan membuatku begitu tentram. “Qonita..” panggil kak Ihsan, kakak tingkat yang juga mahasiswa program beasiswa dari Indonesia setibanya aku di kampus. Setidaknya ada lebih dari sepuluh mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan sama denganku yang kukenal. “iya kak..” jawabku “kita rapat ntar sore di taman, kirim pesan undangan buat anggota Himpunan Mahasiswa Indonesia lainnya ya.., bisa kan?” lanjut kak Ihsan. “bisa kak..” jawabku. Tanpa kusadari dikejauhan sana tampak Syakira memperhatikanku. “kak, saya duluan ya.., udah ditunggu dari tadi sama Syakira” ucapku yang dijawab dengan anggukan dan senyum wibawanya. “kakak deket sekali ya sama kak Ihsan” kata Syakira saat aku mendekatinya. Aku tersenyum mendengan pernyataannya. “wajar dek, kakak sekertaris himpunan dan beliau ketuanya” jawabku sekenanya. “Ooo..” jawab Syakira namun seperti menyembunyikan sesuatu. Ada sinar berbeda yang kulihat dari matanya. “oya, kita rapat nanti sore” “oke” “bisa kita mulai diskusinya?” lanjutku “oke lagi” jawab Syakira. Aku memandangi kak Ihsan yang berdiri dengan temannya tak jauh dari tempat kami. “sebenarnya sesuatu itu memang ada” batinku.

     ***



    Aku mulai membuka rapat saat semua anggota sudah hadir. Rapat sore itu dirangkai dengan penampungan ide masing-masing. “bagaimana kalau seminar tentang aplikasi matematika dalam kehidupan?” ucap Syakira menyampaikan pendapatnya. “sepertinya materi tentang itu sudah banyak sekali, saya lebih berharap seminar ini membicarakan tentang kebudayaan Indonesia agar peserta yang dari luar ataupun jepang sendiri memahami sedikit tentang budaya kita. Nanti bisa kita kolaborasikan dengan agama” ucapku. “saya sependapat dengan Qonita, sepertinya banyak juga mahasiswa Indonesia yang tidak terlalu faham budaya sendiri dan saya rasa hal itu bisa mengobati kerinduan kita pada Negeri sendiri” sambut kak Ihsan. Hari semakin beranjak sore membuat kami mengehentikan rapat sampai disitu. “Qonita, nantian ya pulangnya. Kita rapikan data anggota dulu” ucap kak Ihsan. Aku memandang Syakira yang duduk disampingku. “saya duluan kak, mau ke perpus sebentar” ucap Syakira lansung. “iya” jawabku. Kurapikan data anggota satu persatu, sampai pada data Syakira tanganku terhenti. Kak Ihsan memandang kearah nama tersebut.



    “Syakira…,” desahnya perlahan “berapa sih pengurus yang namanya Syakira?” Tanya kak Ihsan melanjutkan. “sepertinya dua kak, yang tadi namanya Syakira humaira dan satuan lagi Syakira margareta.” jawabku. “oya, suruh Syakira Humaira ngurus masalah pemateri” lanjut kak Ihsan “Syakira?, kenapa mesti?” batinku. “saya hubungi dia sekarang kak” ucapku. Beberapa menit kemudian Syakira datang dan aku segera beranjak. “kakak mau kemana?” Tanya Syakira “ada yang mau kakak urus di asrama, kakak duluan ya” ucapku. Kupandangi kak Ihsan yang nampak kebingungan namun tak terlalu kuhiraukan. Yang jelas aku ingin segera meninggalkan mereka.

     ***


    Acara seminar berlansung lancar, aku berdiri puas memandang peserta yang membeludak. Tanpa kusadari kak Ihsan sudah berdiri disampingku. Ia memandang antusias peserta di depannya. Kualihkan pandangan ke arahnya, nampak ia memperhatikan satu objek dengan senyum dibibirnya. Kutelusuri garis pandanganya yang baru kufahami bahwa ia memperhatikan Syakira yang sibuk menjadi moderator di depan. Ada sedikit sakit di hatiku kurasakan, namun bayanganku pada sosok Zaid membuatku membuang jauh-jauh sakit itu. Setelah acara selesai Syakira mendekatiku “acara yang kakak dan kak Ihsan konsep benar-benar luar biasa. Pemikiran kalian selalu sama ya. Mmmm.., kalian terlihat serasi berdiri berdampingan..” ucap Syakira dan aku mulai mengerti arah bicaranya. “sifat kakak sama kak Ihsan bisa dibilang sama, beliau pendiam kakakpun begitu, beliau suka segala hal yang matematis kakakpun suka dan masih banyak kesamaan yang nampak. Tapi kamu tau, garis yang sejajar hanya akan selalu beriringan namun tidak akan pernah menyatu ujungnya sampai kapanpun karena mereka punya tujuan masing-masing.



    Kakak rasa itu aksioma yang tidak perlu dibuktikan lagi.” Ucapku panjang lebar. “tapi kak, penjumlahan dua buah matriks hanya dapat dijumlahkan jika kedua ukurannya sama” bantah Syakira. “dan darimana adek tau ukuran hidup kami sama?, malah kakak merasa sangat berbeda. Kak Ihsan mencari ujung sebuah garis yang datang dari arah lain bukan searah atau sejajar dengannya dan sepertinya garis lain itu sedang disampingku saat ini” jawabku. Nampak Syakira menunduk dan kulihat kak Ihsan tersenyum setuju. “bila kita misalkan A dan B adalah sebuah himpunan, relasi biner f dari A ke B merupakan sebuah fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan tepat satu elemen di dalam B. kakak percaya itu juga berlaku dalam konsep pasangan hidup yang telah ditentukan-Nya meskipun nanti akan ada fungsi yang bersifat injektif, bijektif maupun surjektif” ucapku lagi. “saya kira kakak suka sama kak Ihsan” aku Syakira malu-malu. “kakak hanya sekedar kagum sama kak Ihsan. Ruang kosong dihati kakak sudah dipersiapkan untuk seseorang di Cairo sana” ucapku dengan senyum.



    Kagum?, ya…. sepertinya aku memang hanya sekedar kagum. Aku kembali teringat pada sosok berperawakan sedang dan berkulit putih di Cairo sana, ada yang terasa ringan dalam jiwaku. “aku berharap engkau tetap sebuah titik seperti yang kau ucapkan dan aku akan tetap yakin aksioma hukum distributive a + (b.c)=(a + b) . (a + c) pada aljabar Boolean itu tidak mustahil” batinku.



    Drrrrt…Drrrt…, Ponselku bergetar, sebuah nomer baru dengan kode Negara luar tampak dilayarnya. “bagaimana kabarmu bidadari sakura?, aku sebuah titik yang tak akan pernah berubah meski jarak itu terbentang”. Aku mengulum senyum saat suara khas dari Negri padang pasir itu menyapaku.


    Mataram, 27 Mei 2012
    Ahad, pukul 00.02 Dini hari



    Benar-benar kunisbatkan hatiku pada-Mu ya Robb., hingga sudutnya yang saat ini kosong Kau tempatkan untuk orang yang Engkau Ridhoi untukku. Maka biarkan aku tenang dengan cinta-Mu.. -

    Reference: http://www.wayankatel.com


    Contoh Cerpen Cinta Romantis Meski Titik Terpisahkan Jarak

    Fashion

    Beauty

    Travel