• Breaking News

    Blog Pendidikan, Contoh Makalah, Contoh Naskah Drama, English Text, Contoh Resensi, Contoh Surat

    KARYA TULIS KESENIAN MASYARAKAT BALI

     KARYA TULIS
    KESENIAN MASYARAKAT BALI
    Di susun sebagai syarat untuk mengikuti
    Ujian akhir nasional tahun ajaran 2012/2013







    Di susun oleh:
    DONI SETIAWAN(11)
    XI IPS 2

    SMA NEGERI 1 JATISRONO
    Alamat:Jl.Raya Wonogiri-Ponorogo km 28 Jatisrono-Wonogiri


    PERSETUJUAN
    Karya tulis ini telah mendapatkan persetujuan dan di sahkan sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir nasional Sma Negeri 1 Jatisrono tahun ajaran 2012/2013
    Di Setujui Pada:
    Hari                 :
    Tanggal           :




    Guru Pembimbing:


    Karni Spd
    NIP:196803082007012018








    PENGESAHAN
    Karya tulis ini telah di sahkan dan di terima sahkan sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir nasional Sma Negeri 1 Jatisrono tahun ajaran 2012/2013
    Di Setujui Pada:
    Hari                 :
    Tanggal           :







    Kepala SMA Negeri 1 Jatisrono


    Dra Endang Sunarsih M.Pd
    NIP: 196402221989032011




    MOTTO

    Ø  Seorang pria sudah setengah jatuh cinta kepada wanita yang mau mendengarkan omongannya dengan penuh perhatian.
    Ø  Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit.
    Ø  Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup.
    Ø  Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan.

    Ø  Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati.
    Ø  Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur.
    Ø  Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda.
    Ø  Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.
    Ø  Bila Anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan Anda.










    PERSEMBAHAN










    Karya tulis ini penyusun persembahkan kepada:
    1.      Kepala sekolah SMA Negeri 1 jatisrono
    2.      Ibu Karni,Spd selaku pembimbing.
    3.      Bp/ibu guru SMA Negeri 1 jatisrono.
    4.      Orang tua yang selalu mendukung.
    5.      Para pembaca yang budiman








    KATA PENGANTAR
                Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya,Penyusun dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan judul” Kesenian Masyarakat Bali
    ”Ini dengan lancar.
                Karya tulis ini,disusun dalam rangka memenuhi tugas.dan sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir nasional tahun ajaran2012/2013 Karya tulis ini disusun,berdasarkan atas kunjungan study yang penyusun laksanakan di tempat yang menjadi tujuan penelitian.
                Penyusun juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan
    Karya tulis ini,pihak-pihak tersebut adalah:
    1.      Kepala sekolah SMA Negeri 1 jatisrono Dra.Endang Sunarsih,Mpd.
    2.      Ibu Karni Spd.selaku guru pembimbing.
    3.      Orangtua tercinta.
    4.      Bp/ibu guru SMA Negeri 1 jatisrono.
    5.      Para pembaca yang budiman.
                Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini sehingga dapat  terselesaikan dengan lancar.Penyusunan ini  mengharapkan kritik dan  saran dari semua pembaca sehingga penyusun dapat mengetahui kekurangan dari karya tulis ini.

    Jatisrono,Mei,2012


    Penulis



    DAFTAR ISI
    HALAMAN JUDUL.....................................................................................................
    i
    PERSETUJUAN...........................................................................................................
    ii
    PENGESAHAN............................................................................................................
    iii
    MOTTO.........................................................................................................................
    iv
    PERSEMBAHAN.........................................................................................................
    v
    KATA PENGANTAR..................................................................................................
    vi
    DAFTAR ISI.................................................................................................................
    vii
    BAB I PENDAHULUAN
                                   I.            Latar belakang.......................................................................................
                                II.            Rumusan masalah..................................................................................
                             III.            Tujuan penulisan...................................................................................
                             IV.            Manfaat penulisan.................................................................................

    1
    1
    1
    1
    BAB II METOLOGI
                                I.               Metologi penelitian................................................................................

    2
    BAB III PEMBAHASAN
                                I.               Kesenian masyarakat Bali.....................................................................

    3
    BAB IV PENUTUP
                                I.               Kesimpulan............................................................................................
                                II.            Saran......................................................................................................


    BAB V DAFTAR PUSTAKA......................................................................................









    BAB I PENDAHULUAN
    A.    LATAR BELAKANG
                Indonesia mueruapakan negara yang luas dan memiki banyak pulau, salah satunya adalah pulau Bali, Bali merupakan pulau Internasional yang sudah terkenal dan mempunyai kesesian salah satunya adalah “Tari Barong” yang sudah di kenal di manca negara maupun di dalam negara,maka dari itu kita sebgai warga negara Indonesia harus lah turut bangga akan kesenian yang ada di Indonesia dan turut menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebut agar tidak ada pengklaiman budaya oleh negara lain seperti yang sudah-sudah.

    B.     PERUMUSAN MASALAH
    1.      Bagaimanakah Sejarah Tari Barong di Bali?
    2.      Bagaimanakah urutan pementasan dalam Tari  Barong?
    3.      Apa saja jenis barong di Bali?
    C.     TUJUAN PENULISAN
    Laporan karya tulis ini bertujuan untuk:
    1.      Menambah wawasan tentang kebudayaan yang ada di Indonesia terutama kebudayaan yang ada di Bali,serta mengungkap Tari barong yang ada di Bali
    2.      Memenuhi syarat untuk mengikuti ujian akhir nasional sma negeri 1 jatisrono tahun ajaran 2012/2013

    D.  MANFAAT PENULISAN
    1.Menambah wawasan dan pengetahuan tentang kebudaayn masyarakat Bali
    2.Mengerti dan mencintai  Negeri Indonesia yang kaya akan budaya dan parriwisata
    3.Menambah wawasan dan pengalaman penulis
    4.Menambah wawasan dan pengetahuan tentang salah satu tempat pariwisata di pulau bali


    BAB II METOLOGI
                Penelitian ini adalah penelitianm deskriptif ekploratif yang bertujuan menemukan dan menggambarkan tentang terjadinya desakralisasi tari barong dalam pariwisata di daerah Bali.Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode observasi, Observasi langsung dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan pertunjukan barong dance untuk melihat simbol-simbol yang mengalami desakralisasi dari tari barong dan pengumpulan data lewat internet
    Data-data yang di perlukan dalam penelitian:
    a.       Perkembangan pertunjukan Barong dance sejak berdirinya sampai dengan penelitian berlangsung, dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan media internet sebagai sarana untuk mencari data dan informasi tentang perkembangan kesenian tari Barong di Bali.
    b.      Program dan kegiatan perkumpulan Barong dance sebelum mulai pertunjukan sampai akhir pertunjukan dan kegiatan lain untuk menarik penonton yang lebih banyak, dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan, metode pengamatan langsung atau observasi, dan mengamati pertunjukan dari awal sampai akhir pertunjukan.
    WAKTU PENELITIAN
    TEMPAT PENGAMBILAN DATA












    BAB III PEMBAHASAN
    A.    SEJARAH TARI BARONG
                Tari barong di dalam masyarakat Bali tergolong sebagai tari sakral  religius dance, tetapi dalam perjalanan sejarahnya tari ini mengalami perkembangandan sekaligus mengalamiperubahan dalam berbagai unsurnya.Perkembangan tari ini mulai dari tanpa lakon, kemudian dipentaskan memakailakon. Lakon yang dipergunakanadalah Calonarang. Sesuai dengansifatnya tari barong ini dipentaskan berkaitan dengan pelaksanaan upacara keagamaan bagi umat Hindu di Bali,seperti odalan, Galungan, dan Kuningan,menyambut Nyepi dan pada sasih kaenem,yang tujuannya secara mitologisuntuk mengusir penyakit yang mengganggu umat manusia, yang ditimbulkan oleh roh jahat leak.Kesakralan tari barong bukanlah berdiri sendiri, tetapi didukung oleh berbagai peristiwa sakralitas yang dilakukan oleh masyarakat pendukungtari barong itu sendiri. Karenaritualismebarong sakral ini demikian rumit sehingga barong bagi masyarakat Balidiberikan gelar Ratu Lingsir, Ratu Sakti,Ratu Gede, dan sebaginya. Gelar ini hampir setara dengan kekuasaan dewa-dewa umat Hindu. Sebab barong secaramitologis dianggap sebagai penjelmaandewa Brahma/Simbol dewa Brahma untuk menghalau Roh Jahat yang ingin menyebarkan penyakit di dunia.Perkembangan selanjutnya taribarong bukan lagi hanya untuk tari pengiringupacara, tetapi sebagai tari untuksajian wisatawan, dengan lakon yang berbeda yakni ceritra Kunti Sraya.Pementasan tidak lagi bertempat di jabaan pura, tetapi dipentaskan di ebuah stage yang memakai atribut serta simbol yang sama dengan barong sakral.Memperhatikan terjadinya perubahan beberapa unsur serta fungsi pementasan tari Barong sakral sehingga tari barong sakral telah mengalami  rofanisasi/
    desakralisasi menjadi tari barong profan. Unsur-unsur/simbolsimbol yang mengalami  esakralisasi
    antara lain:

    a.       proses pembuatan topeng,
    b.      pengantar upacara/pemimpin upacara,
    c.       proses pasupati, ngatep, dan  ngelukar
    d.      ritualisme pementasan, 
    e.       waktu pementasan, 
    f.       fungsi dan tujuanpemen-tasan,  
    g.      organisasi pendukung,
    h.      aktor,
    i.        struktur tari,
    j.        tempat pementasan,
    k.      cerita,
    l.        penokohan,
    m.    musik pengiring,
    n.      struktur pementasan,
    o.      pengambilan keputusan,
    p.      dominasi wangsa
    q.      daya magis, dan
    r.        penonton.

    B.     URUTAN DALAM PEMENTASAN TARI BARON
                Tarian Barong (sendra tari dan drama) berkisah tentang pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan. Barong adalah binatang purbakala melukiskan kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala yang maha dahsyat menggambarkan kebatilanGending Pembukaan:Barong dan kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Kemudian muncullah tiga orang yang bertopeng menggambarkan tiga orang yang sedang membuat tuak ditengah-tengah hutan, yang mana anaknya telah dimakan oleh harimau. Ketiga orang itu sangat marah dan menyerang harimau (Barong) itu dan dalam perkelahian ini hidung salah seorang dari ketiga orang itu digigit oleh kera.
                Babak Pertama :
                Dua orang penari muncul dan mereka adalah pengikut-pengikut Rangda sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui patihnya. Babak Kedua :Pengikut-pengikut Dewi Kunti tiba. Salah seorang dari pengikut Rangda berubah rupa menjadi setan (semacam Rangda) dan memasukkan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti yang menyebabkan mereka bisa menjadi marah. Keduanya menemui Patih dan bersama sama menghadap Dewi Kunti.
                Babak ketiga :
                Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sadewa dan Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya Sadewa kepada Rangda tetapi setan (semacam Rangda) memasukkan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti bisa menjadi marah dan tetap berniat mengorbankan anaknya kepada Patihnya untuk membuang sadewa kedalam hutan dan patih inipun tidak luput dari kemauskan roh jahat oleh setan itu sehingga sang Patih dengan tiada perasaan kemanusiaan menggiring Sadewa kedalam hutan dan mengikatnya dimuka Isatana Sang Rangda.
                Babak keempat:
                Turunlah Dewa Siwa memberikan keabadian hidup kepada Sadewa dan kejadian ini tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda untuk mengoyak-ngoyak dan membunuh Sadewa tetapi tidak dapat dibunuhnya karena kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa. Rangda menyerah kepada Sadewa dan memohon untuk diselamatkan agar dengan demikian dia bisa masuk sorga. Permintaan ini dipenuhi oleh Sadewa. Sang Rangda mendapat Sorga.
                Babak kelima:
                Kelika salah seorang pengikut Rangda mengahadap kepada Sadewa untuk diselamatkan juga tetapi ditolah oleh Sadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian dan Kalika berubah rupa menjadi babi hutan dan didalam pertarungan menjadi burung tetapi tetap dikalahkan. Dan akhirnya kalika (Burung) berubah rupa lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda ini maka Sadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sadewa berubah menjadi Barong karena sama saktinya maka pertarungan antara Barong melawan Rangda ini tidak ada yang menang dan dengan demikian pertaruangan dan perkelahian ini berlansung terus abadi. Kebajikan melawan kebatilan. Kemudian mundullah pengikut pengikut Barong masing masaing dengan kerisnya yang hendak menolong Barong dalam pertarungan melawan Rangda. Mereka ini semuanya pun tidak berhasil melumpuhkan kesaktian Sang Rangda.
    C.     JENIS-JENIS BARONG
                A. Barong ket ( ketet ) barong ini adalah yang paling banyak didapatkan di bali dan yang paling sering dipentaskan serta memiliki jenis perbendaharaan gerak tari yang lengkap.Barong ketet merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau bona.
    Badan barong ini dihiasi dengan ukir ukiran dibuat dari kulit, ditempeli kaca dan bulunya dibuat dari braksok, ijuk atau pula dari bulu burung gagak.
    Didalam menarikannya barong ini diusung oleh 2 ( dua ) orang penari yang dinamakan juru saluk ataupun juru bapang. Lakon ini pada umumnya menggambarkan pertarungan antara kebajikan dan keburukan, dimana thema ini hampir selalu menjadi dasar dalam lakon lakon seni pertunjukan Bali.Gambelan untuk mengiringi tari barong ini adalah gambelan bebarongan yang berlaras pelog. Di beberapa tempat ada juga yang diiringi dengan gambelan semar pegulingan.

                B. Barong Bangkal berarti babi besar yang berumur tua, barong ini menyerupai seekor bangkal biasa disebut barong celeng atau barong bangkung .Gambelan untuk mengiringinya adalah gambelan batel, dalam pementasannya sangat jarang disertai dengan suatu lakon dan pementasan barong bangkal ini biasanya dengan cara ngelawang ( pementasan ) dari satu tempat ketempat lain ) dan ada juga sekedar mafajar atau diusung kesekeliling.
                C. Barong Asu barong ini menyerupai anjing terutama topengnya, sangat dikeramatkan dan terdapat di pura puncak dawa Baturiti Tabanan
                D. Barong Gajah ini barong yang menyerupai gajah, sangat dikeramatkan dan salah satu diantaranya terdapat di Desa Singapadu.
                E. Barong Macan barong ini menyerupai seekor macan, dalam pementasannya ditarikan oleh dua orang penari dan ada juga yang dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja, gambelan yang dipai mengiringinya adalah gambelan batel.
                F. Barong Landung, barong ini berbeda dengan barong barong yang telah disebutkan diaatas. Barong landung wujudnya bukan binatang melainkan manusia purba yang kaki dua. Pada umumnya barong landung ini dibuat berpasangan, terdiri dari ratu Lanang ( Barong landung laki ) dan Ratu Luh ( Barong Landung perempuan ). Barong ini disebut sedemikian karena bentuknya besar dan tinggi (seperti ondel-ondel Jakarta). Ratu Lanang wajahnya sangat menakutkan, hitam mukanya dengan giginya mencolot keluar sedangkan Ratu Luh berupa perempuan tua seperti perempuan cina.
    Dibeberapa tempat di Bali ada juga Barong Landung yang dilengkapi dengan jenis barong Landung lainnya seperti Mantri, Baluh, limbur dan lain-lainnya. Didalam pementasannya barong landung ini mengambil lakon seperti lakon Arja ( terutama di Daerah Badung ) dan diiringi dengan gambelan batel.
                G. Barong Blasblasan, barong ini juga disebut barong kedingkling, barong blasblasan adalah suatu bentuk pementasan yang dilakukan secara ngelawang, penarinya hanya mengenakan topeng topeng wayang wong dengan lakon cuplikan cuplikan dari ceritra Ramayana yang pada umumnya merupakan adegan peperangan. Barong ini banyak di pentaskan pada hari hari Raya Galungan maupun Kuningan dan biasanya penarinya adalah anak anak.Gambelan pengiringnya ada yang berupa batel dan ada pula yang semacam bebarongan (Gambelan batel yang dilengkapi dengan reyong)




    BAB IV PENUTUP
    A.    KESIMPULAN
                Dari pembahsan yang penulis terangkan dapat di simpulkan bahwa “tari barang “merupakan tarian yang khas dan asli dari pulau Bali, dan di gunakan untuk ritual dalam masyarakat, selain itu tari barong juga digunakan untuk menarik pariwisata di pulau bali, selain itu tari barong juga memiliki beberap jenis ,tidak hannya ada satu jenis tari barong,  dan dalam kisahnya tari barong menceritakan tentang perlawanan barong terhadap sebuah kejahatan yang ada di dunia ini yang diperankan sebagai rangda.

    B.     SARAN
    Pada Kesempatan kali ini penulis menyarankan agar:
    1.      sebagai warga negara indonesia kita harus selalu menjaga dan melestarikan budaya bangsa indonesia
    2.      Saat berwisata sebaiknya berpeilaku baik dan tidak merusak apa yang menjadi warisan budaya bangsa.
    3.      Berperilaku sopan saat berwisata kemanapun wisatanya.


















    BAB V DAFTAR PUSTAKA
    Widia, I Gede. 1982. “Kasta dalam Hindu Kesalahpahaman Berabad-abad”. Jakarta:
    Yayasan Mamik Geni.
    Wirjasutha, Nyoman. 1939. “Verslog dari Lezing tentang: Penyakitnya Perkoempoelan di Bali”dalam Djataanjoe. No.6. 25 Djanuari, III. Soerabaia : Modern Canalaan

    http://www.yantoes.blogdetik.com/

    kata kunci: makalah, karya tulis, karya tu;is kesenian masyarakat bali, makalah bali, makalah kesenian bali, makalah bali, makalah keindahan pulau bali, makalah indonesia, makalah adat bali, makalah budaya bali, karya tu;is budaya bali, makalah budaya jogja, makalah wisata bali, karya tulis wisata bali, makalah, makalah balai, makalah tari barong, makalah tari kecak, makalah, karya tulis bahas indonesia, makalah kesenian bali, makalah, kumpulan makalah sma,makalah karya tu;is, karya ilmiah, karya ilmiah, karya ilmiah, skripsi budaya masyrakat bali, hubungan sosial masyrakat bali

    Fashion

    Beauty

    Travel